ENTRY-ENTRY BARU..JOM JENGUK

Tuesday, January 16, 2018

Kau ayahku tapi kau tak layak menjadi suami ibuku

Kala jari jemariku menulis kalimat kalimat ini ...
Mataku yg tak sanggup lg menampung perihnya airmata..
.
Aku diberi Allah pendamping yg sempurna, rajin dan sangat solehah, sebut saja namanya Aisyah, hidupku sangat bahagia apalagi Aisyah telah memberiku dua orang putra dan satu orang putri..
.
Rumah tanggaku sangat bahagia.
Suatu hari hatiku di uji oleh Allah Aku jatuh cinta pada seseorang gadis yang sangat cantik dan lebih mudah, sebut saja namanya Fatimah yang lebih membuatku semakin kuat ingin menikah lagi dgn Fatimah karena ia sangat sholehah dan bersedia menjadi istri kedua ku.
.
Akhirnya aku putuskan untuk menikah dengan Fatimah, aku sudah memberi tahu istriku namun Aisyah tidak menjawab apa apa..
.
.
.
Yg kulihat hanya airmata yang tiba-tiba jatuh saat ku sampaikan itu, aku tak peduli.. Lama kelamaan nanti jg dia akan menerima..
.
Terjadilah pernikahan antara aku dan Fatimah.. Awal awal nya memang agak susah tp lama ke lamaan akhirnya baik-baik saja hanya saja Aisyah sedikit lebih pendiam dari setelah aku menikah lg.
Waktu terus bergulir tidak terasa aku sedah membina rumah tangga dgn Fatimah sudah satu tahun dan dikurniakan seorang putri yg sekarang berusia 6 bulan, semantara Aisyah tidak banyak yang berubah darinya,..
.
.
Hari demi hari berganti dan aku mulai bosan dan jenuh ,
sehingga terjadilah dugaan dalam keluargaku, aku ingin menceraikan salah satu isteriku, akhirnya terjadi pertengkaran dalam keluargaku dan jatuhlah talak ku pada Aisyah, kulihat ada airmata di wajahnya namun dia terus diam dalam kebisuan air mata..
.
.
Ku anak anak ku ikut dengan Aisyah karena aku tahu mereka pasti akan memilih ibunya..
.
.
Tahun berganti tahun..
Hidupku dengan Fatimah pun mulai goyang, sebenarnya aku sangat bahagia dengannya namun sifat manja dan tidak memahami perasaanku membuatku tidak selesa, dan tak jarang rumah tangga kami mulai diterpa pertengkaran.
.
.
Suatu ketika kami pernah bertengkar besar dan membuat aku enggan pulang ke rumah, akupun masuk disebuah masjid, kularutkan diri dlm solat..
.
.
Dlm mesjid itupun aku rindu dengan Aisyah dan anak-anak ku.. Tp dimana mereka?
.
.
.
7 tahun yg silam saat aku mentalak Aisyah...
hingga kini aku tak pernah mananyakan kabar mereka apalagi mengirimkan mereka biaya hidup.. Sungguh semakin membuatku menderita memikirkannya .
.
.
.
Saat itu hujan turun dengan lebatnya..
Aku pelan pelan dan diam diam mulai mencari Aisyah dan anak-anak ku, namun hasilnya tak berhasil, aku mulai menanyakan kiri kanan pada keluarganya atau pada teman teman Aisyah tp tetap tidak kutemui  ..
.
.
.
Mereka hilang bagai ditelan bumi..
Dimana mereka ya Allah.. Doaku dalam hati. Aku semakin ketakutan manakala tak mendapat  apa apa tentang mereka.. Pikiran ku semakin tak menentu.. Di sisi lain Fatimah hidup denganku dengan sejuta tuntutan.
.
.
.
Hari-hari pun terus berlalu..
Bahkan hampir 6 bulan aku mencari mereka.. Hingga pada suatu hari sehabis mengikuti kajian..
Tiba-tiba seorang ustadz mendekatiku
"Abdullah... Apakah kau sudah bertemu Aisyah dan anak-anak mu......?"
.
.
.
ku geleng kan kepala dgn air mata.. Kerinduan..
.
.
.
Ustaz itu berkata " insyaallah mereka baik-baik saja" perkataan sang ustadz membuatku menatap wajahnya lekat lekat..
Wajah sang ustaz seolah tersirat ia mengetahui keberadaan Aisyah dan anak-anak ku... Ternyata benarlah dugaan ku sang ustadz memberi tahu setelah ku desak dimana Aisyah dan anak-anak ku..
.
.
.
Aisyah menghilang dalam hidupku dan menetap di sebuah kota yg sangat jauh dari tempat yg pernah menjadi kota tempat kami saat membina rumah tangga.. Jauh dan sangat jauh...jarak tempuhnya 4hari perjalanan....
Di sebuah pondok pesantren dipelosok desa tepat dilereng gunung...
.
.
Saat itu aku berangkat bersama sang ustaz sebagai petunjuk dan  mempertemukan aku dgn dia Aisyah.. Perjalanan yg panjang membuat aku dan sang Ustadz ingin beristirahat sejenak..
Mampirlah kami disalah satu mesjid di tempat itu.. Dada ku bergemuruh, perasaanku tak menentu, aku jd ketakutan manakala anak anak ku tdk mau melihatku apalagi menerima ku.. terus ku yakinkan hatiku..
.
.
Tiba-tiba lamunanku hilang oleh merdunya suara adzan, airmata ku menitis menghayati kalimat sang mu'adzin..
.
.
Saat itu waktu magrib.. Aku dan Ustad memutuskan bermalam dimesjid tersebut.
Allahu Akbar... Suara imam menggema aku tenggelam dalam solat oleh tartil nya bacaan imam.. Menunjukkan sangat fasih dlm melafalkan Al Quran.. Setelah selesai solat sang imam memberikan tausyiah singkat tentang hargailah orang yg selalu bersama Kita.. Lisan sang imam benar-benar mengiris hatiku...
.
.
Keesokan hari dikala subuh menjelang aku berdoa ya ALLAH pertemukan aku dgn Aisyah dan anak-anak ku... Adzan subuhpun berkumandang.. Sebelum sholat sang ustadz berkata insyaallah pagi ini kau akan bertemu dengan putra pertamamu...
Semakin bergemuruh hatiku ditambah lg suara sang imam membuat para jama'ah memecahkan tangisan.. Sungguh desa dan tempat yg dipilih Aisyah benar-benar sangat damai dari kebisingan dunia.
.
.
Benar lah pagi itu aku bertemu dengan putra sulungku yg tiada lain adalah imam yang dari tadi malam membuat jemaah menangis karena tartilnya membaca Quran... Hatiku bergemuruh..
.
.
.
Dalam usia yang sangat mudah ia telah memiliki ilmu setara gurunya.. Hatiku kembali bergemuruh mana kala melihat nya tumbuh menjadi penghafal Quran...
.
.
Menitis air mata ku kepeluk di erat sekali kutanyakn kabar ibu dan adik adik nya.....
.
.
.
Dgn gaya bahasa yang sangat sopan menceritakan perjalanan ibunya menanggung ketiga anaknya tanpa ada sosok ayah.. Anak sulungku telah di dewasakan oleh ilmunya walau ia baru berumur 14 tahun...
.
.
Kisah perjalanan isterinya di dengar dgn airmata tak terbendung...
.
.
.
Hati Ku semakin merinding kala anak sulungku mengatakan bahwa adiknya yg usia beza setahun dgn anak sulungku telah berangkat ke madinah krn prestasi cemerlang ..
.
.
.
Disisi lain anak perempuan ku yg berusia sembilan tahun telah selesai mengikuti program kelas tahfidz.. Anak sulungku dgn tegas mengatakan kami semua dapat seperti yg abi dengar kerana sosok ibu yang telah abi tinggalkan..
.
.
.
Umi membesarkan dan mendidik kami untuk lebih mencintai Allah..
.
.
Umi memberi kami makan dr hasil kerjanya sebagai orang yang mencuci piring di dapur pondok ini.. Abi..
Umi tak pernah mengajari kami untuk membencimu tp ketahuilah kau adalah ayah kami,tp kau tak layak jd suami dr ibuku.. Kalimat itu terdengar bagai petir..
Dunia terasa gelap.. Wajah ku menunduk.. Aku tak tahu harus berbuat apa.
.
.
Untuk mu yang sedang membaca tulisan ku..
Jgn kau berbuat seperti ku..
Seseorang yg ada disamping mu sekarang adalah orang terbaik yg di pilih Allah untukmu maka jangan sia sia kan...
Aku tak bs melanjutkan tulisanku ini karena airmata ku menghalangi pandangan ku....
Untukmu istri ku Aisyah..
Walau aku tak layak untukmu... Kini kau bukti kan bahwa sikapmu adalah cerminan dari namamu..
Hal terindah dalam hidupku kau telah menjadikan anak anak ku sebagai jundi jundi sejati....
.
.
Untukmu istri ku Aisyah..
Dikala Allah mempertanyakan diriku tentang anak anak ku.. Apa yg hendak aku jawab ...?
.
.
Untukmu istriku Aisyah...
Aku telah membuang berlianku..sungguh anak anak kita tumbuh menjadi anak anak mutthaqiin.. Satu hal yang ku mohon pd Allah.. Aku diberi kesempatan untuk berkumpul dan menembus dosa dan kesalahan dgn kalian.
.
.
.

Silakan SHARE....

3 comments:

Azian Elias said...

sayu nya..
jodoh milik mutlak ALLAH.. susah gak kan..

norhidana miswan said...

moga tak terjadi pada keluarga kita....

lelaki selalu agak kurang bersyukur, selalu mengikut kata hati

Ann Ishak said...

mata masuk habuk